Mpox merupakan penyakit infeksi zoonotik yang disebabkan oleh Monkeypox virus (MPXV), anggota genus Orthopoxvirus. Penyakit ini menjadi perhatian kesehatan masyarakat global setelah terjadi peningkatan kasus di berbagai negara sejak tahun 2022. Indonesia melaporkan kasus Mpox pertama pada Oktober 2022 dan selanjutnya mengalami peningkatan kasus pada tahun 2023. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan epidemiologi Mpox di Indonesia berdasarkan distribusi waktu, tempat, karakteristik penderita, pola penularan, serta karakteristik molekuler virus. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur terhadap laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, World Health Organization (WHO), serta publikasi ilmiah mengenai Mpox di Indonesia. Indonesia melaporkan satu kasus pada tahun 2022, kemudian 72 kasus terkonfirmasi pada tahun 2023 yang tersebar di enam provinsi. Hingga Agustus 2024, jumlah kumulatif kasus mencapai 88 kasus, dengan konsentrasi terbesar di DKI Jakarta. Penelitian molekuler menunjukkan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada laki-laki, termasuk laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (men who have sex with men/MSM), serta individu yang hidup dengan HIV. Sebagian besar pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sehingga mendukung adanya transmisi lokal. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Mpox di Indonesia memerlukan penguatan surveilans, deteksi dini, edukasi masyarakat, pengendalian infeksi, serta pendekatan pencegahan yang berbasis bukti dan bebas stigma.
Distribusi kasus berdasarkan waktu
Indonesia pertama kali melaporkan satu kasus Mpox pada tahun 2022. Kasus tersebut merupakan kasus importasi. Pada tahun 2023, terjadi peningkatan kasus secara signifikan. WHO melaporkan bahwa sepanjang 2023 terdapat 72 kasus terkonfirmasi yang tersebar di enam provinsi.
Pada tahun 2024 masih ditemukan kasus Mpox di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kumulatif kasus konfirmasi hingga Agustus 2024 mencapai 88 kasus, terdiri atas 1 kasus pada 2022, 73 kasus pada 2023, dan 14 kasus pada 2024. Kasus terakhir dilaporkan pada 4 Juni 2024. Seluruh kasus konfirmasi tersebut kemudian dinyatakan sembuh.
Pola tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kasus paling besar terjadi pada 2023. Hal ini dapat dikaitkan dengan peningkatan deteksi melalui surveilans serta terjadinya transmisi lokal. Peningkatan kemampuan deteksi juga berperan dalam menemukan kasus yang sebelumnya mungkin tidak teridentifikasi.
Distribusi kasus berdasarkan tempat
Kasus Mpox di Indonesia tidak tersebar secara merata. Hingga Agustus 2024, kasus ditemukan di enam provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kepulauan Riau. Distribusi kasus menunjukkan konsentrasi terbesar di DKI Jakarta.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dari 88 kasus konfirmasi, 59 kasus berasal dari DKI Jakarta, 13 kasus dari Jawa Barat, 9 kasus dari Banten, 3 kasus dari Jawa Timur, 3 kasus dari DI Yogyakarta, dan 1 kasus dari Kepulauan Riau.
Konsentrasi kasus di wilayah perkotaan dapat berkaitan dengan tingginya mobilitas penduduk, kepadatan populasi, serta jaringan sosial dan seksual yang lebih luas. Oleh karena itu, surveilans di wilayah perkotaan menjadi komponen penting dalam pengendalian Mpox.
Karakteristik penderita
Karakteristik penderita Mpox di Indonesia menunjukkan dominasi laki-laki. Penelitian Tenrisau et al. terhadap kasus terkonfirmasi pada periode 2023–2024 menemukan bahwa 95,4% pasien merupakan laki-laki. Sebanyak 59,8% merupakan MSM dan 71,3% merupakan orang yang hidup dengan HIV/AIDS.
Temuan ini menunjukkan adanya kelompok populasi yang memiliki risiko lebih tinggi berdasarkan pola transmisi yang terjadi selama wabah. Namun, penting untuk ditekankan bahwa Mpox bukan penyakit yang hanya menyerang MSM atau orang yang hidup dengan HIV. Virus dapat menginfeksi siapa saja yang melakukan kontak erat dengan orang yang terinfeksi.
Pendekatan epidemiologi harus menghindari stigma karena stigma dapat menyebabkan individu enggan melakukan pemeriksaan atau melaporkan kontak. Oleh karena itu, strategi pengendalian perlu menitikberatkan pada perilaku dan faktor risiko penularan, bukan memberikan label kepada kelompok masyarakat tertentu.
Pola penularan
Mpox dapat ditularkan melalui kontak erat dengan individu yang terinfeksi, terutama melalui kontak langsung dengan lesi kulit, cairan tubuh, atau bahan yang terkontaminasi. Kontak seksual merupakan salah satu bentuk kontak erat yang berperan dalam transmisi pada wabah global dan juga ditemukan dalam epidemi Indonesia.
Laporan WHO mengenai Indonesia menunjukkan bahwa respons terhadap peningkatan kasus dilakukan melalui surveilans aktif pada kelompok berisiko yang mengakses layanan HIV/AIDS, pelacakan dan pemeriksaan pasangan seksual.
Manifestasi klinis
Manifestasi klinis Mpox dapat bervariasi. Gejala dapat berupa demam, ruam, lesi kulit, sakit kepala, nyeri otot, pembengkakan kelenjar getah bening, serta gejala pada daerah genital atau anorektal.
Penelitian mengenai kasus di Jakarta menunjukkan bahwa lesi kulit merupakan salah satu manifestasi yang paling banyak ditemukan. Hal ini menjadikan pemeriksaan terhadap lesi kulit sebagai bagian penting dalam proses identifikasi dan diagnosis kasus.
Sebagian besar kasus Mpox di Indonesia memiliki tingkat keparahan ringan. Dalam penelitian Tenrisau et al., 51,7% kasus dikategorikan ringan.
Walaupun sebagian besar kasus dapat sembuh, kelompok tertentu seperti individu dengan gangguan sistem imun dapat memiliki risiko mengalami penyakit yang lebih berat sehingga memerlukan pemantauan dan penanganan medis.
Upaya pencegahan dan pengendalian
Pengendalian Mpox di Indonesia dilakukan melalui kombinasi surveilans, penemuan kasus, pemeriksaan laboratorium, pelacakan kontak, edukasi, vaksinasi pada kelompok yang sesuai, dan penguatan pencegahan infeksi.
WHO dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan penguatan surveilans aktif dan pasif, peningkatan keterlibatan masyarakat, komunikasi risiko, serta integrasi pengendalian Mpox dengan program penyakit menular seksual.
Edukasi masyarakat merupakan bagian penting karena masyarakat perlu mengetahui gejala dan cara penularan Mpox tanpa menimbulkan stigma. Individu yang mengalami gejala atau memiliki kontak erat dengan kasus terkonfirmasi perlu memperoleh akses pemeriksaan dan pelayanan kesehatan.
Kesimpulan
Mpox di Indonesia menunjukkan pola epidemiologi yang berkembang sejak ditemukannya kasus pertama pada 2022. Peningkatan terbesar terjadi pada 2023 dengan 72–73 kasus terkonfirmasi, kemudian jumlah kasus menurun pada 2024. Hingga Agustus 2024, Indonesia telah mencatat 88 kasus konfirmasi yang tersebar di enam provinsi.
Secara geografis, kasus paling banyak ditemukan di DKI Jakarta dan wilayah sekitarnya. Secara demografis, kasus didominasi oleh laki-laki, dengan proporsi besar pada MSM dan orang yang hidup dengan HIV. Tingginya proporsi pasien tanpa riwayat perjalanan menunjukkan adanya transmisi lokal di Indonesia.
Pengendalian Mpox di Indonesia perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui deteksi dini, surveilans, pemeriksaan laboratorium, pelacakan kontak, edukasi masyarakat, serta komunikasi risiko yang tidak menimbulkan stigma.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kasus konfirmasi Mpox di Indonesia, seksual sesama jenis jadi salah satu penyebab.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Mpox: Situasi di Indonesia dan situasi global. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.
Tenrisau et al.(2024) Molecular epidemiological surveillance of monkeypox virus in Indonesia from 2023 to 2024”