Mengenal Virus Hanta

Oleh Administrator
Jumat, 29 Mei 2026 07:27
Dibaca 1 kali

Mengenal Virus Hanta

Virus hanta atau Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan terutama melalui tikus. Ilmuan Rusia pertama kali mengenal virus hanta sebangai penyebab wabah sporadik dengan gejala demam disertai gagal ginjal pada tahun 1913 – 1930. Kemudian menjadi perhatian para ilmuan barat pada tahun 1950. Pasukan Amerika yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada waktu perang Korea banyak yang menderita demam yang disertai perdarahan, gagal ginjal dan syok yang kemudian dikenal sebangai penyakit HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) Dua puluh tahun kemudian baru dapat diisolasi virus pada tikus luar rumah yang ditangkap dekat sungai Hantaan Korea. Sehingga virus ini diberi nama Hantaan Virus. Hantavirus bukanlah penyakit baru di Indonesia. Dalam tiga tahun terakhir, sudah lebih dari 250 kasus suspek hantavirus. Namun, hanya 23 yang dinyatakan positif.

Gambar 1. Struktur Virion Hanta Virus

Virus Hanta kurang infeksius, kecuali di dalam lingkungan tertentu Lamanya waktu virus ini dapat bertahan di Lingkungan setelah keluar dari tubuh tikus tidak diketahui secara pasti. Tetapi percobaan laboratorium menunjukkan bahwa daya infektifitasnya tidak dijumpai setelah dua hari pengeringan. Genus hanta virus terdiri dari 22 spesies virus yang dapat menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrom (HFRS) dan hantavirus pulmonary syndrome (HPS). Virus yang menyebabkan HPRS maupun rodent yang menjadi reservoar diantaranya adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Virus Penyebab HFRS dan HPS

Manifestasi klinik HPS adalah demam, sakit kepala, pusing, gangguan pencernaan yang tidak khas, batuk dan gangguan pernafasan sedangkan HFRS gejalanya juga tidak spesifik yang pada tahap lanjut dapat berupa albuminuria (keluarnya protein dalam urine) dan gangguan fungsi ginjal sampai terjadinya gagal ginjal akut.

Cara Penularan

virus Hanta melalui urin, feses dan saliva binatang pengerat (rodent) yang terinfeksi virus Hanta. Pada binatang tersebut tidak menyebabkan penyakit, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Manusia dapat terinfeksi melalui inhalasi jika seseorang menghirup debu yang tercemar ekskreta (feses, urin, saliva) yang berasal dari tikus terinfeksi.

Gejala Virus Hanta

Gejala awal sering menyerupai flu sehingga sulit dikenali. Masa inkubasi biasanya 1–8 minggu setelah paparan.

Gejala awal:

• Demam

• Nyeri otot

• Sakit kepala

• Lemas

• Mual dan muntah

Gejala berat:

• Sesak napas

• Batuk

• Tekanan darah menurun

• Gangguan ginjal

• Perdarahan

Pada kasus berat, penderita dapat mengalami kegagalan pernapasan yang membahayakan jiwa.

Faktor Risiko

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terpapar virus hanta antara lain:

• Tinggal di lingkungan dengan banyak tikus.

• Membersihkan gudang, loteng, atau rumah kosong tanpa perlindungan.

• Bekerja di area pertanian, perkebunan, atau hutan.

• Sanitasi lingkungan yang buruk.

Diagnosis

Diagnosis dilakukan melalui:

• Pemeriksaan gejala klinis.

• Riwayat paparan tikus.

• Pemeriksaan laboratorium seperti tes antibodi dan PCR.

Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan darah dan foto rontgen paru untuk mengetahui tingkat keparahan penyakit.

Pengobatan

Belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan dilakukan dengan terapi suportif, seperti:

• Pemberian oksigen.

• Cairan infus.

• Perawatan intensif di rumah sakit.

• Bantuan ventilator bila terjadi gagal napas.

Semakin cepat pasien mendapatkan penanganan medis, semakin besar peluang kesembuhan.

Pencegahan

Pencegahan merupakan langkah paling penting dalam menghindari infeksi virus hanta.

Cara pencegahan:

1. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.

2. Menutup akses masuk tikus ke rumah.

3. Menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

4. Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang banyak tikus.

5. Tidak menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering karena dapat menyebarkan partikel virus ke udara.

Kesimpulan

Virus hanta merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat dan dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal. Meskipun kasusnya relatif jarang, penyakit ini memiliki tingkat keparahan tinggi apabila tidak ditangani dengan cepat. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan hewan pengerat menjadi langkah utama dalam pencegahan virus hanta.