Gambaran Pengawasan Survei Vektor Penyakit Malaria di Wilayah Pelabuhan Laut Jayapura Bulan Januari Tahun 2026

Oleh Administrator
Selasa, 20 Januari 2026 06:58
Dibaca 87 kali

GAMBARAN PENGAWASAN SURVEI VEKTOR PENYAKIT MALARIA

DI WILAYAH PELABUHAN LAUT JAYAPURA

BULAN JANUARI TAHUN 2026

Hery Fandri Imbiri, SKM

Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Jayapura

PENDAHULUAN

Balai Kekarantinaan Kesehatan merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan yang memiliki tugas dalam mencegah masuk dan keluarnya penyakit menular potensial wabah, melaksanakan tindakan kekarantinaan, memberikan pelayanan kesehatan terbatas di wilayah kerja pelabuhan, serta melakukan pengendalian dampak kesehatan lingkungan.

Dalam melaksanakan tugas tersebut, Bidang Pengendalian Risiko Lingkungan menyelenggarakan kegiatan pemberantasan serangga penular penyakit, termasuk nyamuk. Seiring meningkatnya teknologi, arus perdagangan, dan mobilitas manusia, risiko penularan penyakit melalui alat angkut dan isinya semakin besar. Salah satu faktor risiko tersebut adalah keberadaan vektor seperti nyamuk, baik yang terbawa oleh alat angkut maupun vektor lokal yang berpotensi terinfeksi dari penderita yang datang dari daerah endemis.

Nyamuk merupakan serangga yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat karena berperan sebagai vektor berbagai penyakit. Untuk mendukung upaya pengendalian vektor yang tepat sasaran dan efektif, diperlukan pengetahuan mengenai bionomik dan morfologi nyamuk sebagai dasar dalam penentuan strategi pengendalian.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Di Indonesia, telah ditemukan 26 spesies Anopheles yang berperan sebagai vektor malaria, dan distribusi spesies ini berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Keberagaman spesies tersebut diketahui melalui pelaksanaan surveilans vektor yang berkesinambungan.

Data surveilans vektor malaria maupun DBD menjadi dasar pemilihan metode pengendalian vektor yang tepat. Metode pengendalian dapat dilakukan melalui pendekatan fisik, biologis, modifikasi lingkungan, maupun kimia. Pengendalian vektor secara terpadu (Integrated Vector Management/IVM) akan menghasilkan intervensi yang lebih efektif dan efisien.

TUJUAN

Untuk mengetahui tingkat kepadatan nyamuk Anopheles sp., Aedes sp., dan Culex sp, Untuk mengetahui jumlah dan distribusi kepadatan populasi nyamuk, Untuk mengetahui jenis spesies nyamuk yang ditemukan di wilayah Pelabuhan Laut Jayapura.

METODE

1. Metode Pelaksanaan

Kegiatan survei faktor risiko penyakit malaria di wilayah Pelabuhan Laut Jayapura dilakukan melalui metode pengamatan dan penangkapan nyamuk Anopheles spp. menggunakan human landing collection (HLC) dan resting collection. Pelaksanaan survei diawali dengan persiapan alat dan bahan sebagai berikut:

a. Alat ; Aspirator, Botol plastic, Vial sampel, Handuk, Kandang nyamuk, Mikroskop stereo, Cangkir kertas/plastic, Thermometer maksimum-minimum, Kotak penyimpanan nyamuk, Rol kabel, Senter, Sling hygrometer, Weather station, Petri dish, Jarum bedah nyamuk, Jarum serangga, Pinset serangga

b. Bahan : Kertas label, Kain kassa, Karet gelang, Kapas, Kertas poin, Kutek bening, Formulir survei

2. Kondisi Lingkungan

Pengamatan dilakukan pada dua lokasi, yaitu Perimeter dan Buffer zone, dengan parameter sebagai berikut:

HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Pengamatan Nyamuk Dewasa

Penangkapan dilakukan menggunakan umpan badan (human landing collection). Jumlah nyamuk yang tertangkap ditampilkan pada tabel berikut:

Tabel 1. Hasil Penangkapan Nyamuk Dewasa

2. Identifikasi Spesies dan Perhitungan Indeks Kepadatan

2.1 Man Biting Rate (MBR) – Anopheles spp.

Nilai baku mutu MBR Anopheles spp. ≤ 0,025

2.2 Resting Rate (RR) – Aedes spp.

Baku mutu RR Aedes spp. < 0,025

2.3 Man Hour Density (MHD) – Culex spp. 

Standar baku mutu MHD: ≤ 0,025

3. Interpretasi Hasil

Berdasarkan hasil perhitungan kepadatan vektor pada kegiatan surveilans bulan November di Pelabuhan Laut Jayapura, diperoleh:

Anopheles spp : Perimeter : MBR = 0, Buffer : MBR = 0

→ Tidak ditemukan risiko penularan malaria melalui vektor Anopheles pada periode survei.

Aedes spp : Perimeter : RR = 0,12, Buffer : RR = 0

→ Indikasi potensi risiko penularan arbovirus (Dengue) di wilayah Buffer Zone.

Culex spp : Perimeter : MHD = 1,38, Buffer : MHD = 0,50

→ Kepadatan tinggi, berpotensi menimbulkan risiko gangguan kenyamanan masyarakat dan potensi penularan filariasis.

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Tidak ditemukan Anopheles spp. yang berpotensi sebagai vektor malaria selama kegiatan survei.
  •  Ditemukan Aedes spp. dengan nilai RR melebihi baku mutu di wilayah Buffer, sehingga diperlukan intervensi pengendalian jentik/ hindari gigitan nyamuk.
  •  Kepadatan Culex spp. pada kedua lokasi berada jauh di atas standar, sehingga perlu perhatian dalam pengendalian lingkungan dan sumber perindukan.

REFERENSI

Kementerian Kesehatan RI (2023). Peraturan Menteri Kesehatan No. 10 Tahun 2023 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Bidang Kekarantinaan Kesehatan.

Undang-undang No. 17 tahun 2023 tentang kesehatan.

Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 66 tahun 2004 tentang Kesehatan Lingkungan